Sabtu, 14 Juli 2012

Ketika Cinta (By : Opick/ Siti Nurhaliza)

Ada tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggil Mu
Karna setiap jiwa tlah bersumpah setia
Hanyalah pada Mu

Bila cinta ada di dalam jiwa
Wangi bunga dunia tanpa nestapa
Sgala yang dirasa hanyalah Dia
Hatikan memuja hanya padaNya

Ketika cinta memanggil
Gemetar tubuhku
Ketika cinta memanggil
Hangatnya nafasku
Ketika cinta memanggil
Sang rindu
Ketika cinta memanggil

Rindu...rindu...rindu kalbu
memanggil-manggil nama Mu
Seperti terbang di langit Mu
tenggelam di lautan cinta Mu

Bertabur kalbu yang rindu
Melebur menjadi satu
Bagai menari diiringi pelangi
Ketika cinta memanggil

Cinta Setulus Jiwa (By : Opick)


Dalam luka
Dalam duka
Engkau ada dan setia
Temani jiwa...

Surya yang memerah
Senja di langit dunia
Sunyi hatiku
Terbayang wajah mereka

Yang memelukku
Menjagaku
Memberiku kasih dan sayang
Mencintaiku
Merawatku tanpa lelah
Setulus jiwamu...

Jauh sudah langkah hari
Yang memanggil rindu
Di dalam hatiku padamu
Andai bisa ku mengulang waktu
Hanya tuk mengerti akanmu menyentuhmu...

Cahaya Hati (By : Opick)


Allah engkau dekat
Penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau
Biarkan hamba Mu menangis
Karna kemurahan Mu
Karna kasih sayang Mu
Hanya bila diri Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela
Dia kekasih Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asthma Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Setiap makhluk bergantung padaMu
Dan bersujud semesta untuk Mu
Setiap wajah mendamba cinta Mu cahaya Mu

Ibu (By : Hadad Alwi Feat Farhan)

Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beriku penerangan
Selembut sutra kasihmu ’kan
Selalu rasa dalam suka dan duka



Reff:

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Bagaikan embun kau sejukkan
Hati ini dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Repeat reff

Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti


Repeat reff [2x]

Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Semua UntukNya (By : Hadad Alwi Feat Anti)

Ku buka mata ini dan pandangi
Mentari pagi, Alhamdulillah
Ku mulai langkahkan kaki ini
Arungi bumi dan Bismillah

Nikmati indah karunia-Nya
Alam semesta ini milik-Nya
Semua kan kembali pada-Nya

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin

Ku buka mata ini pandangi
Mentari pagi, Alhamdulillah
Ku pejamkan mata lelap sepi
Berharap bunga mimpi, Alhamdulillah

Nikmati indah karunia-Nya
Alam semesta ini milik-Nya
Semua kan kembali pada-Nya

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati
Lillahi robbil 'alamin

Jumat, 15 Juni 2012

Cerita Cinta Anak SMA

Setelah Astri memastikan penampilannya perfect hari ini, dia lalu mengeluarkan motornya dari halaman rumah, siap untuk pergi ketempat kerja. Dikenakannya helm berwarna biru, tidak lupa dia mencium tangan ibunya untuk pamitan. Motor scooter matic yang pagi tadi telah dia panaskan, sekarang siap dikendarai. Astri lalu menstarter motor itu, beberapa detik kemudian motor matic itu meluncur dijalanan beraspal, meninggalkan asap knalpot yang berterbangan diudara.

Astri baru saja lulus kuliah tahun ini, dan dia sudah dipercaya menjadi seorang guru di sebuah sekolah swasta di Rangkasbitung. Meski awalnya dia belum begitu yakin untuk menjadi seorang pendidik, tetapi ketika semua dilaluinya dengan hati gembira dan keikhlasan, hari-harinya pun dapat dijalani dengan lancar.

Dia merasa tidak yakin karena bidangnya bukan dari kependidikan. Astri merupakan sarjana ekonomi dengan jurusan manajemen. Saat ini memang dia dipercaya menjadi guru ekonomi, tetapi untuk menghadapi tiga puluh sampai empat puluh siswa perkelasnya memang tidak mudah.

Tugas guru adalah untuk digugu dan ditiru. Dia harus sebisa mungkin menampilkan citra yang baik di depan murid-muridnya, jangan sampai didepan murid dia mengajar dan menasehati hal-hal yang baik pada muridnya tetapi dibelakang dia berbuat sesuatu yang tidak baik. Baik di sekolah maupun diluar sekolah, sebisa mungkin Astri harus menjaga nama baiknya.

Sangat memalukan kalau sampai seorang guru diberitakan melakukan perbuatan tercela. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena perbuatan tidak baik seorang guru, maka akan merusak citra orang lain yang berprofesi sama dengannya. Murid bukan hanya akan tidak hormat padanya, tetapi juga tidak akan mau menuruti kata-katanya atau mungkin akan meniru perbuatan tidak baik gurunya.

Setelah perjalanan selama dua puluh menit dari rumah menuju sekolahnya, akhirnya Astri tiba. Diparkirkannya motor di halaman sekolah, setelah memastikan motornya terkunci, Astri lalu turun dan melangkah menuju ruang guru.

“Assalamu’alaikum.” Sapanya pada teman-teman yang sudah datang terlebih dahulu.

“Wa’alaikum salam… bu Astri kebetulan, saya baru saja mau menelepon Ibu.” Ujar Ibu Desi.

Astri hanya tertegun.

Ada apa Ibu Desi mau meneleponnya? Rekan kerjanya ini kan seorang guru BP, apakah sesuatu terjadi pada muridnya sehingga Ibu Desi hendak menghubunginya.

Tapi sebelum sempat pertanyaan Astri terjawab, bel masuk keburu berbunyi.

“Bu Astri ada jam sekarang?”

“Nanti jam ketiga, Bu.”

“Baguslah kalau begitu, mari Ibu ikut saya ke ruang BP.”

“Sebenarnya ada apa ini Ibu Desi? Saya bingung.”

Bagaimana dia tidak merasa bingung, baru saja dia datang, dia sudah diminta untuk pergi ke ruang BP. Pagi-pagi sudah ada berita yang tidak menyenangkan.

“Ibu wali kelas sepuluh TKJ bukan?”

Astri hanya mengangguk.

“Anak Ibu ada yang bertengkar.”

Ya Tuhan…! Anak muridnya ada yang bertengkar. Pagi-pagi mereka bertengkar?

Memangnya apa yang sedang mereka ributkan.

“Tadi Pak Kiki memergoki ada anak bertengkar di dekat toilet, setelah kami tanya ternyata mereka anak-anaknya Ibu. Hani dan Diana anak Ibu bukan?”

Hani dan Diana? Sekretaris dan bendahara kelas, bertengkar memperebutkan apa? Berantem di depan toilet sampai kepergok wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, kenapa nggak sekalian dipergoki kepala sekolah? Biar tambah heboh! Dan semakin tambah pusing kepala wali kelasnya.

“Sebentar, Bu, saya taruh helm dulu.”

“Silahkan.”

Bergegas Astri menaruh helmnya ditempat penyimpanan helm, setelah melepas jaket dan menyimpan tasnya, dia segera menyusul Ibu Desi yang terlebih dulu pergi ke ruang BP.

***

Diana dan Hani duduk tepekur di sofa yang terdapat di ruang BP, didepan mereka duduk Pak Kiki sedang melipat tangan di dada. Tampaknya Pak Kiki sedang mengintrogasi muridnya. Diruangan itu bukan hanya ada Pak Kiki, tetapi ada Pak Gilang, Pembina osis dan juga Irawan, ketua kelas teknik komputer dan jaringan.

“Ada apa ini?” Astri memerhatikan pemandangan itu dengan penuh tanda-tanya.

“Ibu….” Diana dan Hani menyambut kedatangan wali kelasnya dengan wajah memelas dan air mata yang menggenang di pelupuk mata mereka.

Penampilan keduanya membuat Astri geleng-geleng kepala. Pakaian mereka berantakan dan kotor, tampaknya pertengkaran itu terjadi dengan sengit. Jilbab yang mereka kenakan pun tampak tidak rapi lagi.

“Kalian bikin masalah apa sih?”

Yang ditanya malah diam tertunduk, tidak berani menjawab.

“Mereka bertengkar, Bu. Memperebutkan seorang anak laki-laki.” Akhirnya Pak Kiki lah yang memberi jawaban.

“Apa?!” Astri sempat tertegun sesaat. “Memperebutkan siapa?”

“Nih orangnya, Bu.” Pak Gilang menunjuk pada Irawan yang juga tidak berani menatap wali kelasnya.

Walaupun dia sebagai anak laki-laki yang diperebutkan oleh dua anak perempuan, tetapi dia tidak bisa memperlihatkan sikap besar kepala didepan wali kelasnya sendiri. Malah Irawan merasa sangat malu.

“Irawan nggak tahu apa-apa, Bu." Cowok hitam manis itu membela diri

“Tapi dia yang udah selingkuh dengan Diana, Bu.” Hani menerangkan penyebab pertengkarannya.

“Siapa juga yang selingkuh? Kamu tuh yang kegatelan, nyangka Irawan suka sama kamu, dia itu punya aku tahu!” Tuduh Diana.

“Siapa yang kegatelan, aku nggak pernah deketin Irawan, dia sendiri yang suka pedekate sama aku, kirim-kirim salam, ngasih coklat, ngasih parfum, apa itu namanya kalau bukan dia suka sama aku.” Hani tak mau kalah.

“Emangnya kamu punya bukti kalau semua barang-barang itu dari Irawan?”

“Aku punya bukti! Ini kartu ucapan yang ditulis Irawan buat aku.” Hani memperlihatkan barang bukti berupa kartu ucapan yang tergeletak diatas meja.

“Diam kalian semua!” bentak Astri.

Hani dan Diana sontak terdiam.

Tidak biasanya Ibu Astri marah seperti ini, wali kelasnya ini dikenal sebagai guru paling baik dan paling tidak bisa marah sama muridnya. Hatinya selalu tidak pernah tega bila harus memarahi dan memberi hukuman pada murid. Tapi kali ini Ibu Astri benar-benar naik pitam.

“Kalian pikir, kalian pantas bicara seperti itu didepan guru-guru kalian? Kalian berdua ini harus sadar, kalian masih anak ingusan, baru kelas sepuluh, pakai baju abu-abu putihnya juga baru kemarin, sudah bilang pacaran, selingkuh, kegatelan. Apa pantas seorang pelajar mengucapkan kata-kata seperti ini?!”

Hani dan Diana hanya diam tertunduk. Si cowok yang sedang diperebutkan itupun sejak tadi hanya berani menutup mulutnya.

“Kalian masih terlalu kecil untuk berpacaran, memang pacaran itu hal yang biasa bagi remaja seusia kalian, tetapi alangkah lebih baik jika kalian berprestasi dulu di kelas, jangan dulu pikirkan pacaran. Kalian bertiga termasuk anak yang rajin dan berprestasi, sayang sekali kalau nilai-nilai kalian turun gara-gara sibuk memikirkan pacaran. Ibu disini merupakan orang tua kalian, Ibu yang bertanggung jawab atas sikap dan nilai-nilai kalian. Ibu tidak mau kalau sampai kalian semua jadi kacau gara-gara pacaran.”

“Iya, Bu… maaf.” Hani dan Diana semakin tidak berani menatap gurunya.

“Pak Kiki, apa hukuman untuk anak yang ketahuan bertengkar di sekolah?”

“Hukumannya di skors tiga hari, Bu.”

“Di skors?” Belalak Hani dan Diana. "Jangan, Pak... please... kami malu kalau harus di skors."

“Itu resiko yang harus kalian tanggung.” sahut Astri meski sebenarnya hatinya tak tega juga menghukum mereka. Tampak merasa merasa sangat bersalah.

“Kalian berdua ini ada-ada saja, bertengkar memperbutkan satu cowok, bikin cowok itu besar kepala aja, mending perebutin Bapak aja.” Gilang mencoba mencairkan suasana.

Mendengar kelakar itu, Diana dan Hani pun tersenyum. Setidaknya kata-kata Pak Gilang membuat hati mereka sedikit terhibur.

“Dua anak ini memperbutkan satu cowok, emangnya cowoknya suka sama kalian nggak?” Ibu Desi kembali menghangatkan suasana.

“Buat saya mereka hanya teman, Bu….” Irawan menyahut. “Lagian parfum, bunga dan coklat itu sebenarnya bukan buat Hani, Bu.”

“Trus buat siapa di kartu ucapan itu kan inisialnya AH, harusnya Aina Handayani, kan?” tanya Ibu Desi seraya membaca kartu ucapan yang ada diatas meja sebagai barang bukti.

“Bukan. AH itu maksudnya Astri Hermawan.”

Astri terkejut mendengar namanya disebutkan oleh sang ketua kelas.

“Jadi, kamu naksir Bu Astri?” Ibu Desi terkejut.

“Pak, skors aja ketiga anak ini satu minggu! benar-benar keterlaluan, sangat memalukan!” setelah mengucapkan kata-kata itu Astri segera keluar dari ruang BP dengan wajah memerah karena marah.

Pak Gilang, Pak Kiki dan Ibu Desi hanya mengulum senyum melihat kepergian sang wali kelas yang baru saja mendapatkan pernyataan cinta dari muridnya.

Nama, cerita dan lokasi hanya rekayasa, bila ada kesamaan bukan suatu kesengajaan

thanks to my student Helen Irawan, Rohaeni dan Indah Rohdiana, maaf namanya Ibu catut

Sabtu, 31 Desember 2011

DN Angel

BAB 1

Dera dan Nicky dua sahabat dengan karakter yang bertolak belakang tapi mereka akrab, solid dan kompak. Dera anak yang cantik. Tubuhnya tinggi semampai. Memiliki sepasang mata yang indah dengan dua bola mata yang hitam dan bening laksana batu akik dan dihiasi alang-alang bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung. Bibirnya kecil mungil berwarna merah murni. Kulitnya putih, mulus kontras dengan rambutnya yang panjang tergerai hitam.

Tapi Dera itu anaknya manja, cengeng, penakut dan selalu ingin menang sendiri. Maklumlah, anak tunggal seorang pengusaha kaya. Jadi, kedua orang tuanya teramat sangat memanjakan Dera, bisa dibilang saking dimanjanya luka sedikit aja langsung dibawa ke dokter. Apa aja mau Dera, pasti langsung dituruti, nggak ada yang pernah bikin Dera merasa bersedih karena hidupnya selalu menyenangkan, nggak ada beban pikiran.

Berbeda dengan Nicky, cewek yang satu ini justru kebalikannya dari Dera, pemberani dan cuek. Preman pasar aja berani di lawannya jadi nggak ada cowok iseng yang mau berbuat macam-macam sama dia. Nicky anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya laki-laki, makanya Nicky agak tomboy. Selain jago karate, Nicky juga jago olahraga, ya atletik, basket, dia kuasai sampe-sampe Nicky pengen bisa main sepak bola.

Sebenarnya Nicky itu anak yang cantik tapi dia nggak pernah mau perduliin sama keadaan dirinya, mau item, mau kulitnya kasar itu nggak ada pengaruhnya kalau buat Dera ada jerawat nongol di mukanya satu aja dia udah uring-uringan kayak kebakaran jenggot. Dera rajin banget perawatan dari ujung ujung kaki ke ujung kepala pasti dirawatnya kalau Nicky dari pada disuruh perawatan di salon yang bakalan ngabisin waktu berjam-jam, dia sih lebih seneng ngabisin waktunya buat main basket atau sekedar main game dirumahnya.

Yang bisa bikin Dera dan Nicky deket itu karena Nicky ngelindungin Dera banget, bisa dibilang Nicky itu kayak kakaknya Dera, kalau ada apa-apa sama Dera, Nicky yang bakalan bertindak soalnya Dera itu tipe anak yang nggak bisa nyelesain masalahnya sendiri paling bisanya juga nangis jadi harus selalu ada yang ngebantu Dera. Dan cuma Nicky yang mau bela-belain apa aja buat Dera, apalagi karena emang ortu Nicky sama ortu Dera udah kenal lama.

Dera juga baik sama Nicky. Dera rajin bikin salinan catatan buat Nicky, kalau anak itu harus izin nggak masuk pelajaran karena harus latihan buat persiapan pertandingan olahraga, atau ikutan naik gunung bareng anak-anak pecinta alam.

Nicky emang kalah pintar dari Dera tapi Dera selalu sabar ngajarin Nicky sampai dia benar-benar ngerti. Tapi ada satu hal yang bikin Nicky nggak mau jauh dari Dera, soalnya Dera rajin banget ngebayarin dia makan, kadang-kadang kalau Dera beli baju, sandal atau sepatu, Dera juga suka beliin buat Nicky tapi harus model yang sama biar kembaran, Dera senang banget kalau ada mereka pake barang samaan.
***
“De!” Dera terkejut melihat Nicky yang tiba-tiba muncul didepannya. “Pagi-pagi udah ngelamun, ngelamunin apa sih?”

“Nicky, bikin kaget aja.” Dera yang tidak mengira hari ini Nicky akan datang ke sekolah, hanya menarik nafas panjang melepaskan rasa terkejutnya.

“Lagian pagi-pagi udah ngelamun. Tadi kok kamu ninggalin aku sih, De?”

“Kemarin bilangnya nggak mau sekolah, capek habis naik gunung.” Lagian biasanya juga kan begitu, kalau habis naik gunung besoknya Nicky pasti malas sekolah.

“Sekarang kan lain, De, minggu UTS.” Diletakkannya tas ranselnya diatas meja. Dia lalu menghempaskan bokongnya ke kursi sebelah Dera.

“Ky, tahu nggak sih, ada kabar nyebelin tentang kita loh.”

“Soal apa?” Nicky bertanya dengan santai padahal Dera sudah gelisah dengan kabar yang dia punya sekarang ini.

Kabar yang membuat Dera merinding mendengarnya.

“Katanya kita lesbian.” Dera berbisik.

“Siapa sih yang ngomong? Aku nggak pernah denger tuh?” Kali ini Nicky mulai serius menanggapi kabar yang dibawa Dera. Tentu saja dia tanggapi dengan serius karena kabar itu sudah membuatnya jadi marah sekarang.

“Beritanya nyebar waktu kamu naik gunung kemarin, Ky.”

“Siapa yang berani ngomong gitu?! Kasih tahu aku!!”

“Aku sih nggak tahu dari siapa? tapi aku dengernya dari Patra.”

Nicky menggebrak meja. Lalu dia pergi tanpa bicara apa-apa lagi.

Dera merasa cemas, dia segera mengikuti kemana perginya Nicky. Ternyata Nicky mendatangi kelas Patra, dia menghampiri Patra yang lagi ada didalam kelasnya tanpa permisi.

“Tra! Siapa yang nyebarin gosip kalau gue sama Dera lesbian?!”

Patra yang terkejut karena pagi-pagi sudah ditodong pertanyaan dengan suara keras, sampai tertegun sesaat, kemudian barulah dia menebah dadanya.

“Gue sih nggak tahu pasti, tapi katanya ….” Patra celingukan lalu dia berbisik.

“Donna.” Mata Nicky membelalak.

“Si biang keringet sialan! Dasar tuh anak! Dari dulu dendam dia ama gue, gara-gara kakaknya gue tolak!” Nicky segera pergi ke kelas Donna yang ada disebelah kelas Patra. “Heh! Mana Donna?!” tanya Nicky sama cowok-cowok yang ada dikelas itu.

“Di kantin tuh.” Seseorang menjawab.

Nicky segera pergi ke kantin. Dera sejak tadi terus mengikuti kemana Nicky pergi. Sebelum tiba di kantin Nicky bertemu Donna and the gang didepan lab bahasa, langsung aja Nicky melabrak Donna.

“Heh, Donald! Elu berani ngomong apa sama temen-temen gue?!”

“Ngomong apaan sih lu?! Nggak ada angin, nggak ada ujan, pagi-pagi udah kayak orang kebakaran bulu ketek aja.”

“Eh, jangan pake ngeles lu, ya?! elu ‘kan yang bilang gue sama Dera itu lesbian!”

“Aduh… husband-nya Dera marah-marah tuh.” Ujar Donna dengan gaya mengejek. “Emang iya, elu sama Dera lesbian ‘kan? buktinya sampe sekarang elu sama Dera nggak punya pacar.” Dengan geram Nicky menarik kerah baju Donna.

“Sembarangan elu ngomong ya! Gue ini normal! Awas lu kalau berani ngomong kayak gitu sekali lagi!”

“Elu mau apa? Lesbian.” Nicky yang udah mau pergi lalu berbalik. Didekatinya Donna lalu dengan sekuat tenaga dia injak kaki Donna dengan kencang.

“Aduh!” Donna berteriak kesakitan.

“Itu upah buat cewek ember kayak elu yang sukanya ngomongin orang!” setelah berkata begitu Nicky lalu pergi. Untung aja hari masih pagi jadi pertengkaran itu nggak harus ketahuan guru, kalau nggak mereka bisa-bisa dipanggil ke ruang BP.